Perjuangan di Bali

Saya menghabiskan seminggu di BALI!

Oke… sebelum pada ngiri karena membayangkan saya berjemur di pantai, belajar surfing, menikmati snoorkling atau curiga bahwa saya punya honeymoon kedua di bali, saya ke Bali dalam rangka menghadiri Konvenas muda-mudi III (bagi yang gak ngarti, konvenas itu ajang kumpul-kumpulnya muda-mudi yang terlibat dalam karismatik katolik). Ini ceritanya…

Read the rest of this entry »

Seni Jualan

“Every one lives by selling something.”

Robert Louis Stevenson

choypan

choypan

Ketika aku masih di SD, keluargaku pernah mengalami kesulitan besar. Papaku yang kerjanya sebagai sopir truk masuk penjara gara-gara dianggap bersalah mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang. Begini ceritanya…

Read the rest of this entry »

bangga vs cinta

Pertanyaan saya: “Bangga gak jadi orang Indonesia? ” sudah membuat kehebohan. Sebagian teman-teman saya yakin saya sudah membuat penghinaan kepada bangsa dan negara ini karena berani menanyakan pertanyaan itu. Mereka yakin aku pantas dipenjarakan karena tidak punya nasionalisme….

Sebagian memjawab pertanyaan saya: Gua bangga jadi orang Indonesia soalnya ini tanah air gua. Ini tumpah darah gua… Wow saya SUNGGUH SUNGGUH senang ada orang yang merasa seperti itu. Mereka tidak perlu alasan untuk bangga. Mereka BANGGA titik. Good for them…

Bagi saya… saya perlu lebih. Saya perlu alasan untuk bangga.

Read the rest of this entry »

Bangga Jadi Orang Indonesia?

Bulan lalu saya menghadiri pertemuan komisi kepemudaan KAJ. Ada yang istimewa kali ini. Salah satu acaranya talkshow dengan Rm. Magnis Suseno SJ. Romo yang anehnya banyak ngurusin politik.. meskipun tidak jadi politikus.. Topiknya masih nyerempet politik… judulnya : Wawasan Kebangsaan.

Talkshow dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya! Kayaknya sudah lamaaaa sekali tidak menyanyikan lagu kebangsaan.. terakhir kali waktu masih upacara bendera di SMA. Jujur.. ada rasa haru juga menyanyikan lagu Indonesa Raya. Rm Magnis yang kelahiran Jerman namun sekarang sudah jadi warga negara Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan maha serius.. dua tangan rapat di sisi badan.\

Moderator talkshow menanyakan satu pertanyaan mengelitik sesudahnya:  Apakah Anda bangga jadi orang Indonesia? Tidak ada yang langsung menjawab pertanyaan yang mudah itu. Mungkin bingung. Dijawab tidak bangga… malu sama peserta lain. Dijawab bangga, apa alasannya?

Read the rest of this entry »

how other sees me…

Saya sedang mengajar tentang gambar diri di retret JOY yang diikuti oleh para siswa Theresia. Topiknya : Gambar Diri. Saya ingin mengillustrasikan bahwa pandangan orang lain terhadap kita belon tentu benar…. Orang lain mungkin menyebut kita; bego, jelek, ancur… eiiii… mereka kemungkinan besar salah…

btw. ini gambar anak-anak Tere ketika disuruh gambarin aku..

karikatur-gw.jpg karikatur-gw-001resize.jpgkarikatur-gw-002resize.jpgkarikatur-gw-003resize.jpgkarikatur-gw-004.jpg

like i said… they may be wrong :)

Bali oh Bali

Aku ke Bali… Bukan! Bukan untuk honeymoon. Meskipun Riana ikut juga.. Karena ada sembilan orang lain lagi dalam rombongan kami.. Ceritanya, kami pergi untuk temu leader dan retret leader bersama para pemimpin orang muda lain di lingkungan karismatik katolik dari seluruh Indonesia.. (at least.. hampir dari seluruh Indonesia…) Bagi aku.. perjalanan ini merupakan retret yang luar biasa, liburan yang asyik, mungkin juga shopping yang seru..

Read the rest of this entry »

happy easter

Tahun ini… gereja yang kukunjungi untuk misa.. tidak terlalu rame.. (mengherankan…) Aku memang datang satu jam lebih awal. Tapi kalo taon-taon lalu biasanya gereja sudah penuh bahkan sejam sebelumnya. Taon ini.. kosong.. dan aku bisa memilih untuk duduk di tempat duduk favoritku.. di pinggir.. bangku yang hanya muat empat orang.. karena aku berdua Riana isteriku, hanya tersisa tempat untuk dua orang. Tapi, karena aku dihitung satu setengah.. hanya tersisa tempat untuk satu orang saja..hahaha..

Satu jam lowong itu… aku berdoa (well.. most of the time.. ada juga ngelamunnya…). Selain pengen enjoy aja… taon-taon lalu aku bawa buku.. (hei mind you… bukan buku komik ya.. buku rohani dunk..) Tapi taon ini aku ingin bicara dengan Yesus… Many things.. difficult decision.. big challange.. banyak deh..

Paskah taon ini bagiku adalah harapan.

Seperti murid Yesus yang menemukan Yesus bangkit.

Dia tidak mati. It’s not over yet!

Jangan kembali menjadi penjala ikan.. kan kamu dipanggil menjadi penjala manusia…

That’s your Lord who has risen! He is alive. He is with you.

everybody.. Happy Easter.. Semoga janji baptis yang kita ucapkan lagi di malam paskah terpatri dalam lubuk hati kita..  sehingga untuk selama-lamanya kita ikut Yesus.. selama-lamanya..

Good Bye PDA

Hari Jumat pagi. Aku punya tugas maha penting. Nyetor artikel Bahasa Kasih ke percetakan. Aku memilih memakai celana pendek menyesuaikan tema suasana pagi yang nyantai. PDA-ku aku masukkan ke saku celana yang kebesaran. Biasanya akan aku cantolkan di ikat pinggang. Berhubung celana pendekku berpinggang karet (sengaja.. supaya bisa menyesuaikan dengan ukuran pinggangku yang cenderung…..’taulah’).

Setengah jam kemudian aku sudah di percetakan lagi asyik mengedit renungan Bahasa Kasih. PDA-ku berbunyi ‘guk guk guk’ (suara anjing yang aku jadikan ringtone). Aku mengeluarkannya untuk membaca sms yang masuk. Alangkah terkejutnya ketika aku temukan aku tidak bisa membaca apa-apa di layar PDA tersebut. Selain ada garis-garis warna-warni laksana pelangi ditambah bekas retakan di pinggir layar.

Butuh 3 detik sebelum aku menyadari apa yang terjadi dan berteriak tertahan: AAARGHHHH! Layar PDA ku retak. Bencana. Musibah. Kesialan… Aku tahu bahwa sang PDA akan butuh layar baru. Yang artinya aku butuh merogoh kantong cukup dalam. Berapa dalam?? Itu yang aku kuatirkan…

Sempat terhibur oleh teman yang memberi informasi bahwa butuh sekitar 500 ribu untuk satu unit layar PDA yang baru.. informasi yang salah… Service center yang aku hubungi membrandol harga satu juta seratus ribu rupiah. HAAAA!!

Astaga…Kalaupun PDA ku tidak retak layar dan dijual ke toko, harganya tidak akan jauh-jauh dari itu.. lah wong, ini PDA jadul, dari jaman purbakala, ketika dinosaurus masih merajai bumi.. (itu gaya hiperbola orang stress…) 

Akhrinya setelah tanya kiri-kanan.. aku mengambil keputusan untuk pindah haluan. Tidak lagi memakai PDA dengan touch screen yang keren namun rawan. Aku sedang mencari Nokia 9300 yang bentuknya kayak batangan coklat valentine..namun layarnya terlindung dari keretakan (kecuali kalau aku benar-benar super ceroboh..).

Dan posting ini untuk mengenang PDA ku IPAQ jadul… yang sudah setia menemaniku.. mengatur jadwalku sehingga mengurangi mereka yang protes karena aku melupakan janjiku dengan mereka, mengingatkan ultah sehingga mengurangi mereka yang sakit hati karena terlupakan hari istimewanya, menyimpan MP3 pengajaran, jadi gudang catatan yang tidak pernah aku lihat lagi, menyediakan games yang sampe sekarang baru tamat level pertama… Selamat jalan PDA..

Hiks..

nb: ada yang mau beli PDA dg layar yang retak? :)

forgive, dont forget

Ini posting yang tertunda karena hostingan ‘jesusforyouth.org’ pindah rumah. Baru saja hidup lagi.. (thanks didi) dan sudah tidak sabar mau menulis tentang ini…

Tentang Jendral Besar yang baru saja berpulang ke rumah Bapa. Bendera setengah tiang masih berkibar diikat di pagar rumah saya. (Bukan karena saya mencintai Bapak Jendral, tapi karena malas nuruninnya..) Minggu lalu seantero negeri, seluruh stasiun tv, semua siaran radio.. hanya punya satu topik…  meninggalnya sang jendral.

Seorang teman saya tercinta, seorang wanita mungil yang lembut hati, adu mulut dengan pacarnya karena menyatakan simpati dan sedih (seperti halnya jutaan manusia di negeri ini) atas meninggalnya beliau. Pacarnya tidak menyetujui perasaan itu karena menurut logika sang pacar (itulah salahnya, sejak kapan wanita pake logika) : tidak perlu sedih! Ingat..  dia sudah menyengsarakan ribuan mungkin ratusan ribu atau jutaan orang dengan penangkapan, penghilangan, operasi milliter, dan hanya Tuhan yang tahu apa lagi.. Pertengkaran kedua sejoli ini merupakan gambaran yang terjadi di negeri ini. Maafkan, kata sebagian orang. Tetap harus diselesaikan secara hukum, teriak yang lain. Dimaafkan asal dikembalikan uangnya, usul sebagian yang lebih praktis cara berpikirnya.

Saya terganggu. Karena lagu “Gugur Bunga” yang berkumandang di stasiun berita favorit saya. “Gugur satu tumbuh sribu…” syair lagu yang tak terucapkan.. (Ya Tuhan, cukup satu saja pemimpin seperti dia)

Saya terganggu karena bangsa Indonesia memang bangsa yang mudah lupa. Lupa bahwa ketika beliau berkuasa.. saya tidak mungkin menulis tulisan seperti ini. Tidak mungkin ada perayaan tahun baru imlek seperti kemarin. Lupa tentang kerusuhan, penjarahan, pembakaran, perkosaan. Lupa bahwa korupsi yang mendarah daging adalah hasil didikan beliau.

Saya maklum. Banyak orang  yang bernostalgia betapa lebih baiknya zaman dulu. Tidak perlu ngantri minyak. Tidak kekurangan beras. Atau kedele yang meroket harganya. Atau sembako yang gonjang-ganjing… Dan bagi mereka itu yang paling penting.  

Saya akan memaafkan. Namun saya coba untuk tidak lupa. Karena bangsa ini pantas mendapatkan pemimpin yang lebih baik. Yang pantas dikenang dengan bendera setengah tiang.

Samuel.. samuel

Saya fanatik tentang hal ini. Saya sangat percaya bahwa setiap orang punya panggilan dalam hidupnya. Bahwa setiap orang born with a mission. Ya.. setiap orang. Bukan orang-orang spesial yang terpanggil menjadi nabi, imam, rohaniwan, martir, orang kudus..  Bukan. Semua orang. Si Paijo, Gunawan, Aliong, Firman, Rahmat, Sinta, Michelle, Inem… lebih dari 5 milliar makhluk hidup yang bernama manusia yang menjejali bumu ini.. setiap dari mereka.. mempunyai panggilan. Tuhan menuliskan itu, ehmm… mengukirnya, memahatnya, di dalam hati mereka saat menciptakan mereka.

Banyak kali orang menemukan panggilan mereka ketika mereka masih kecil. Contoh aja.. Saya ingat bahkan dari SD saya suka membaca dan mengarang. Hobi mengarang ini terkubur karena setiap kali menyerahkan tugas mengarang, saya selalu mendapatkan cubitan di perut dari guru Bahasa Indonesia saya. Mengapa? Tulisan saya JELEK. Bukannya karangan saya jelek. Bukan… tapi tulisan (huruf-huruf yang saya tulis) dianggap kurang rapi dan tidak terbaca, bahkan untuk ukuran anak SD yang tulisannya carut-marut. Punya saya tergolong lebih parah dari biasa. Trauma ini (percayalah.. cubitan di perut berulang-ulang bisa menyebabkan trauma psikologi) membuat saya membenci mengarang. Namun bahkan sampai hari saya ingat pernah menonton di tipi seorang pengarang wanita yang sedang diwawancarai. Saya ingat membatin betapa menyenangkan pekerjaannya. Saya juga berkhayal untuk menulis cerpen dan mengirimkan ke majalah (tidak pernah terjadi terutama karena saya yakin tidak akan dimuat).

Coba lihat apa yang terjadi di umur saya yang 30an…. I’m blogging! Tidak ada guru Bahasa Indonesia yang mengatakan tulisan saya jelek. Tidak perlu kuatir tidak dimuat. It is my blog!

Dan tentang panggilan… hari ini saya menikmati pekerjaan saya yang banyak berhubungan dengan leadership. Kalau saya lihat ke belakang. Itu sepertinya sudah digariskan sebagai jalan hidup saya. Mulai dari memimpin anak-anak di komplek rumah saya, menduduki jabatan elit sebagai ketua kelas di bangku SD (jobdesc: hapus papan tulis), ketua OSIS di SMP-SMA, sampai segala ketua ini itu di pelayanan. It is my calling…

Ingat kisah Alkitab tentang Samuel kecil yang dipanggil Tuhan di malam hari. “Samuel, Samuel..” Saya kira Tuhan juga memanggil kita saat kita seusia Samuel. Memberi bayangan tentang misi kita di dunia. Memberikan kisi-kisi akan seperti apa hidup kita nanti setelah dewasa. Menaburkan mimpi yang menjadi cita-cita..

Sayangnya, bagi banyak orang, panggilan ini terkubur dalam-dalam di hati mereka. Karena takut (seorang teman yang punya panggilan jadi guru tidak pernah mengejar mimpinya karena takut kalau-kalau dia tidak bisa menghadapi para muridnya nanti), karena kuatir (seorang anak muda yang begitu mencintai musik tidak pernah mengejar mimpi menjadi pemusik karena kuatir dia tidak bisa hidup dari musik), karena kenyamanan (seorang wanita yang ingin terjun ke bidang sosial enggan meninggalkan pekerjaannya sekarang yang dilimpahi uang dan fasilitas). Banyak panggilan yang mati. Banyak misi yang tidak terselesaikan. So sad… :(

Apa panggilan hidupmu? Percayalah.. kita hanya menemukan arti hidup kita saat kita menjalani panggilan kita.. Be brave!