valentine’s day

OK. Valentine’s day memang sudah lewat (basi?). Tapi seperti seorang sahabat pernah berkata: “Setiap hari adalah valentine”. How can we argue about that?

Lagipula baru sekarang saya sempat posting sesuatu yang terjadi di hari nan romantis itu. Kali ini mengenai hal pribadi ya postingnya.. (hei.. apa gunanya punya blog kalau saya tidak posting hal pribadi.. ya gak?!)

Ok. Ceritanya komunitas kami mengadakan misa valentine khusus suami istri. Agak diskriminatif memang.. para jomblo yang ’sengsara’ di hari valentine hanya bisa gigit jari. hehehe…

Read the rest of this entry »

Good Bye PDA

Hari Jumat pagi. Aku punya tugas maha penting. Nyetor artikel Bahasa Kasih ke percetakan. Aku memilih memakai celana pendek menyesuaikan tema suasana pagi yang nyantai. PDA-ku aku masukkan ke saku celana yang kebesaran. Biasanya akan aku cantolkan di ikat pinggang. Berhubung celana pendekku berpinggang karet (sengaja.. supaya bisa menyesuaikan dengan ukuran pinggangku yang cenderung…..’taulah’).

Setengah jam kemudian aku sudah di percetakan lagi asyik mengedit renungan Bahasa Kasih. PDA-ku berbunyi ‘guk guk guk’ (suara anjing yang aku jadikan ringtone). Aku mengeluarkannya untuk membaca sms yang masuk. Alangkah terkejutnya ketika aku temukan aku tidak bisa membaca apa-apa di layar PDA tersebut. Selain ada garis-garis warna-warni laksana pelangi ditambah bekas retakan di pinggir layar.

Butuh 3 detik sebelum aku menyadari apa yang terjadi dan berteriak tertahan: AAARGHHHH! Layar PDA ku retak. Bencana. Musibah. Kesialan… Aku tahu bahwa sang PDA akan butuh layar baru. Yang artinya aku butuh merogoh kantong cukup dalam. Berapa dalam?? Itu yang aku kuatirkan…

Sempat terhibur oleh teman yang memberi informasi bahwa butuh sekitar 500 ribu untuk satu unit layar PDA yang baru.. informasi yang salah… Service center yang aku hubungi membrandol harga satu juta seratus ribu rupiah. HAAAA!!

Astaga…Kalaupun PDA ku tidak retak layar dan dijual ke toko, harganya tidak akan jauh-jauh dari itu.. lah wong, ini PDA jadul, dari jaman purbakala, ketika dinosaurus masih merajai bumi.. (itu gaya hiperbola orang stress…) 

Akhrinya setelah tanya kiri-kanan.. aku mengambil keputusan untuk pindah haluan. Tidak lagi memakai PDA dengan touch screen yang keren namun rawan. Aku sedang mencari Nokia 9300 yang bentuknya kayak batangan coklat valentine..namun layarnya terlindung dari keretakan (kecuali kalau aku benar-benar super ceroboh..).

Dan posting ini untuk mengenang PDA ku IPAQ jadul… yang sudah setia menemaniku.. mengatur jadwalku sehingga mengurangi mereka yang protes karena aku melupakan janjiku dengan mereka, mengingatkan ultah sehingga mengurangi mereka yang sakit hati karena terlupakan hari istimewanya, menyimpan MP3 pengajaran, jadi gudang catatan yang tidak pernah aku lihat lagi, menyediakan games yang sampe sekarang baru tamat level pertama… Selamat jalan PDA..

Hiks..

nb: ada yang mau beli PDA dg layar yang retak? :)

Indonesia’s Most Powerful Book

Saya jadi korban iklannya Kick Andy di Metro TV. Iseng-iseng nonton Kick Andy ternyata lagi bicarain buku populer “Laskar Pelangi”. Semakin penasaran karena ada kesaksian beberapa orang yang mengatakan bahwa buku ini sungguh mempengaruhi hidup mereka. Benarkah begitu powerful? Novel Indonesia? Hmmm..
Minggu lalu beli buku ini di Gramedia Matraman yang sudah selesai direnov dan jadi toko buku nan megah..(termegah dan terluas di jakarta?). Ternyata buku ini memang luar biasa… Pantas disebut ‘Indonesia’s most powerful book’
Berkisah tentang 10 anak kecil yang sahabatan dari SD sampai SMP. Dengan setting sekolah Muhamadiyah di pedasaan pulau Belitong. Alur cerita mengalir lancar. Dibumbui metafora sinting ala Andea. Bau-bau sastra nya kental.. (kontan menaikkan buku ini ke kelas bacaan sastra). Berbobot namun tidak sampai berat.
Meskipun bukan jenis buku yang bikin kecanduan seperti Harry Potter namun keasyikan membaca buku ini bisa bikin lupa waktu. Dan paling penting ada pesan moral yang mau disampaikan. Asyiknya pesan moralnya disampaikan dalam balutan cerita yang memikat, sehingga tanpa sadar kita sudah terbujuk olehnya.
Asyik. Dan jelas menyejukkan hati mengetahui bahwa ternyata sastra Indonesia masih hidup and kicking. Ternyata bangsa ini masih menyimpan bakat-bakat terpendam…
Last words, baca deh! Highly recommended.

ps: ada sambungannya.. gak sabar mo beli lagi.. :)

forgive, dont forget

Ini posting yang tertunda karena hostingan ‘jesusforyouth.org’ pindah rumah. Baru saja hidup lagi.. (thanks didi) dan sudah tidak sabar mau menulis tentang ini…

Tentang Jendral Besar yang baru saja berpulang ke rumah Bapa. Bendera setengah tiang masih berkibar diikat di pagar rumah saya. (Bukan karena saya mencintai Bapak Jendral, tapi karena malas nuruninnya..) Minggu lalu seantero negeri, seluruh stasiun tv, semua siaran radio.. hanya punya satu topik…  meninggalnya sang jendral.

Seorang teman saya tercinta, seorang wanita mungil yang lembut hati, adu mulut dengan pacarnya karena menyatakan simpati dan sedih (seperti halnya jutaan manusia di negeri ini) atas meninggalnya beliau. Pacarnya tidak menyetujui perasaan itu karena menurut logika sang pacar (itulah salahnya, sejak kapan wanita pake logika) : tidak perlu sedih! Ingat..  dia sudah menyengsarakan ribuan mungkin ratusan ribu atau jutaan orang dengan penangkapan, penghilangan, operasi milliter, dan hanya Tuhan yang tahu apa lagi.. Pertengkaran kedua sejoli ini merupakan gambaran yang terjadi di negeri ini. Maafkan, kata sebagian orang. Tetap harus diselesaikan secara hukum, teriak yang lain. Dimaafkan asal dikembalikan uangnya, usul sebagian yang lebih praktis cara berpikirnya.

Saya terganggu. Karena lagu “Gugur Bunga” yang berkumandang di stasiun berita favorit saya. “Gugur satu tumbuh sribu…” syair lagu yang tak terucapkan.. (Ya Tuhan, cukup satu saja pemimpin seperti dia)

Saya terganggu karena bangsa Indonesia memang bangsa yang mudah lupa. Lupa bahwa ketika beliau berkuasa.. saya tidak mungkin menulis tulisan seperti ini. Tidak mungkin ada perayaan tahun baru imlek seperti kemarin. Lupa tentang kerusuhan, penjarahan, pembakaran, perkosaan. Lupa bahwa korupsi yang mendarah daging adalah hasil didikan beliau.

Saya maklum. Banyak orang  yang bernostalgia betapa lebih baiknya zaman dulu. Tidak perlu ngantri minyak. Tidak kekurangan beras. Atau kedele yang meroket harganya. Atau sembako yang gonjang-ganjing… Dan bagi mereka itu yang paling penting.  

Saya akan memaafkan. Namun saya coba untuk tidak lupa. Karena bangsa ini pantas mendapatkan pemimpin yang lebih baik. Yang pantas dikenang dengan bendera setengah tiang.

Masih Cina?

Hari ini Tahun Baru Imlek. Dan saya TIDAK merayakannya. Artinya, secara
resmi, di tahun tikus tanah ini, tahun baru Imlek jadi (hampir) sama seperti hari
Nyepi, hari Kemerdekaan, hari Valentine (oops..) Memang bukan baru tahun ini
saja saya tidak merayakan tahun baru imlek. Namun kenyataan menyedihkan ini
tiba-tiba saya sadari tahun ini.

Read the rest of this entry »