Bangga Jadi Orang Indonesia?

Bulan lalu saya menghadiri pertemuan komisi kepemudaan KAJ. Ada yang istimewa kali ini. Salah satu acaranya talkshow dengan Rm. Magnis Suseno SJ. Romo yang anehnya banyak ngurusin politik.. meskipun tidak jadi politikus.. Topiknya masih nyerempet politik… judulnya : Wawasan Kebangsaan.

Talkshow dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya! Kayaknya sudah lamaaaa sekali tidak menyanyikan lagu kebangsaan.. terakhir kali waktu masih upacara bendera di SMA. Jujur.. ada rasa haru juga menyanyikan lagu Indonesa Raya. Rm Magnis yang kelahiran Jerman namun sekarang sudah jadi warga negara Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan maha serius.. dua tangan rapat di sisi badan.\

Moderator talkshow menanyakan satu pertanyaan mengelitik sesudahnya:  Apakah Anda bangga jadi orang Indonesia? Tidak ada yang langsung menjawab pertanyaan yang mudah itu. Mungkin bingung. Dijawab tidak bangga… malu sama peserta lain. Dijawab bangga, apa alasannya?

Saya termasuk yang bingung juga. Saya mencari alasan untuk bangga jadi orang Indonesia. Pastinya bukan karena peringkat nomor lima kita di daftar negara terkorup. Atau karena negara kita punya jumlah orang miskin yang buanyakkk.. mencapai 54 juta orang… Yang saya cari alasan untuk bangga kok yang ketemu alasan untuk tidak bangga ya… kok susah amat?

Anyway.. latar belakang dikit.. saya orang Indonsia keturunan tionghoa. Lahir di Pontianak, sebuah kota yang jumlah orang tionghoanya cukup banyak. Kebanyakan orang tionghoa di Pontianak masih berkomunikasi dengan dialek hakka atau tiociu (dialek bangsa cina). Mama saya masih sulit berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Generasi muda di Pontianak yang sebenarnya tidak pernah mengecap pendidikan bahasa mandarin dengan keras kepala mempertahankan kebiasaan berkomunikasi dengan dialek tersebut meskipun sudah dicampur dengan bahasa Indonesia. Papa saya masih membela tim bulutangkis cina ketika ada pertandingan Cina melawan Indonesia.

Pendidikan kebangsaan saya hanya saya dapat dari pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) jadul (jaman dulu)… penuh propaganda dan teori. Sedikit rasa kebangsaan itu remuk setelah beberapa kali dimaki ‘dasar cina luh!’ oleh beberapa orang yang tidak makan bangku sekolah…

Talkshow hari itu memicu renungan serius bagi saya. Apakah saya bangga jadi orang Indonesia? Apakah saya mencintai bangsa dan negeri ini? Ataukah cinta saya sebatas.. negeri ini tempat cari makan? Kalau ada kesempatan untuk pindah warga negara, apakah saya akan sambar seperti banyak generasi muda Indonesia?

Sedikit catatan dari Rm Magnis.. Ini tiga hal yang akan jadi tantangang bangsa Indonesia..

Pertama. Menerima keragaman bangsa kita. Bangsa Indonesia dari sononya kayak gado-gado. Campur-campur. Macam-macam sukunya. Macam-macam bahasanya. Macam-macam budayanya. Macam-macam makanan khasnya (nah ini bisa dibikin alasan untuk bangga…hehehe). Macam-macam kepercayaannya. Saat ini ada kelompok-kelompok yang sulit untuk menerima itu. Menganjurkan supaya orang yang berbeda kepercayaan dengan mereka layak untuk dibunuh. Tempat ibadahnya boleh dibakar. Mengapa begitu sulit untuk menerima bahwa bangsa ini milik kita semua, yang harusnya berbeda tapi satu (ingat Bhinneka Tunggal Ika???)

Kedua. Mewujudkan Keadilan sosial. Sekitar empat puluh persen bangsa Indonesia berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya… Kalaupun mereka bisa memenuhi kebutuhan pokok mereka. Mereka berjuang setengah mati untuk memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak mereka. Memberikan perawatan kesehatan yang biayanya selangit. Memenuhi kebutuhan yang harusnya jadi hak mereka sebagai warga sebuah negara yang negerinya sempat dijuluki Jamrud Khatulistiwa… Hal yang tragis mengingat segelintir warga bangsa ini.. punya hobby shopping mingguan di Singapur. Kapan bangsa kita bisa hidup sejahtera?

Ketiga. Menciptakan demokrasi yang sehat. Demokrasi menurut romo Magnis sebenarnya sudah banyak perkembangan sejak reformasi. Namun demokrasi itu terancam oleh budaya korupsi yang sudah jadi penyakit akut. Korupsi yang akarnya ‘money politic’. UUD (ujung-ujungnya duit). Mau jadi pejabat.. duit. Mau jadi politikus.. duit. Makanya begitu sudah punya jabatan… rame-rame menggunakan jabatan sebagai sarana cari duit.

Saya ingin bertanya kepada Romo Magnis. Dalam segala macam masalah itu…adakah harapan untuk Indonesia? Tidak sempat saya tanyakan karena keterbatasan waktu. Namun seakan bisa membaca isi hati saya. Sebelum meninggalkan ruangan, Romo Magnis berkata: Orang muda jangan putus-asa. Indonesia masih punya harapan!

Saya tidak tahu alasan Romo mengatakan itu.. (lain kali kalau bertemu lagi akan saya tanyakan…) Untuk sekarang saya percaya saja… masih ada harapan untuk Indonesia. Selamat Ulang Tahun Indonesia. MERDEKA!

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>